Iqbhal: “Proses menulis dari nol, sampai proses menulis buku kedua – Bahwa memang bagian tersulit dari pilihan hidup adalah menjalaninya.”

Membaca dan menulis adalah yang membedakan kita dengan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang lainnya. Gue bersyukur kenapa gue bisa mencintai sebuah tulisan. Mungkin untuk pertama kali saat gue duduk di bangku SMA kelas 2. Bukan tentang gue bisa membaca tulisan baru umur 17 tahun, tapi tentang kapan gue bisa merasakan; tulisan sebenarnya bisa mengekspresikan ego dan emosi kita.

“Aku nanti makan dulu ya di situ, kamu yakin mau nunggu di toko buku?” ucap cewek berseragam SMA dengan tas ketek berwarna coklat yang berjalan di samping gue. Saat itu kita sehabis pulang dari sekolah. Entah ingin ke mana tujuannya, pacar gue, Anggi, memutuskan untuk makan siang di Mc Donal*d. Gue nggak ikut, karena saat itu gue lagi puasa, dan emang lagi di bulan puasa. Anggi ini katanya lagi gak puasa. Biasa, kebiasaan cewek tiap bulan. Lagi dapet.

“Iya, aku nunggu di toko buku. Nanti kalau aku lama, kamu samperin aja. Tapi, kalau kamu lama, aku langsung pulang. Bye!” ucap gue sambil becanda dan Anggi pun ngedumel, “Ih dasar, kampret!” Sambil cemberut, dia langsung mendorong pintu masuk Mc Donal*d.

Gak lama, sejak saat itu gue sampai di toko buku dan langsung disambut penjaganya, tanpa harus membuka pintu, toko buku itu membuka lebar-lebar pintu masuknya. Gue yang tujuannya cuma nunggu Anggi, saat itu, sembari membaca-baca buku yang membuat tertarik, akhirnya malah membeli satu buku yang ‘menampar’ kesadaran gue, “5 menit Langsung Bisa Menguasai Bahasa Monyet.”

Eh.

Bukan itu deng.

Ada satu buku dengan cover coklat bertuliskan “Skripshit” dengan gambar kucing hitam bernama Supri, meminta makan kepada majikannya yang sedang stres di meja belajarnya. Kayaknya dia stres karena harga Indomie naik terus. Alitt Susanto. Ya, itulah nama penulisnya yang tulisannya terpampang besar di cover buku itu.

Awalnya cuma tertarik akan tema percintaannya, lama-kelamaan ada bab tentang perjalanan hidupnya sang penulis. Gue sampai dihipnotis ke kasir dan membelinya. Kampret lu, Alitt!

Gue pun menghampiri Anggi yang sedang makan, dia kayaknya bingung; kok tumben seorang Iqbhal beli novel, biasanya beli buku bekas buat sekedar tugas sekolah. Ini malah beli buku baru, kesambet kayaknya.

Lembar demi lembar gue baca sampai nggak kerasa gue haus, dan gue pun minum. Gak penting. Mungkin itu adalah buku yang bisa gue baca sampai tamat, dan gue pantas mendapatkan rekor MURI setelah 17 tahun nggak pernah baca buku sampai tamat. Terakhir gue baca buku, endingnya malah jadi ganjelan meja. Sedih. Bukunya. Mungkin kalau penulisnya tau, dia bakalan nangis di bawah shower sambil ditemani lagu melow-nya Repvblik.

Ooooo uwoow~

Kuakui memang ku salah~

Oke, stop! Jadinya ketauan deh gue suka dengerin lagu begituan.

Sial.

Nggak kebayang, 3 tahun setelah itu gue bisa menerbitkan buku pertama gue. Nggak nyangka. Dan Anggi juga sekarang nggak nyangka kalau gue milih jalan hidup menjadi seorang penulis. Gue pun jelasin semuanya ke dia soal cerita di atas. Serius. Tapi, dia malah nggak inget. Ya, itulah hebatnya tulisan, kenangan sekecil apapun bisa terus abadi sampai kapan pun ketika kita membacanya lagi nanti.

Sejak lulus SMA, gue nekat untuk nggak lanjut kuliah. Orang-orang yang terkejut dengan keputusan gue pun nggak sedikit, karena menurut mereka, kepintaran gue dengan menjadi lulusan terbaik SMA nggak dimanfaatkan dengan melanjutkan kuliah. Umur 18 tahun gue terus menekuni dunia menulis, gue berjuang dari titik nol.

Mungkin kalau bisa dibandingkan dulu dengan sekarang, orang menyangka gue nggak ada bedanya. Soal cinta, gue memang cemen. Buktinya, gue malah putus sama Anggi sebelum Ujian Nasional, bukan gara-gara fokus belajar. Tapi, tentang sifatnya yang memang benar-benar berubah. Ketika hubungan harus benar-benar berakhir, adalah saat kita sadar bahwa kita memperjuangkan hubungan itu cuma sendiri, bukan berdua lagi.

Ngomongin dari titik nol. Itu memang benar-benar dari titik nol. Tanpa restu, materi, perhatian, bantuan, bahkan cuma modal nekat. Gue nggak unggul dalam nilai Bahasa Indonesia, mungkin di bawah rata-rata. Gue pun nggak punya keturunan seorang penulis. Dan hal lain yang berhubungan dengan tulisan, apalagi bakat. Soal belajar bahasa aja gue lemot buat nangkepnya.

Kata orang, bakat bisa dikalahkan oleh kerja keras. Betul, gue setuju. Bahkan ketika alasan nggak ada modal sama sekali pun, gue bisa buktiin bahwa mimpi kapan pun bisa terwujud.

Saat itu gue tinggal di rumah kakek-nenek gue, bokap dan nyokap tiri gue tinggal di rumahnya sendiri, dan itu jauh jaraknya dari tempat tinggal gue. Gue tinggal sendiri tanpa diberi uang jajan. Gue inget banget ketika gue tinggal di dalam kamar sendiri setelah hari kelulusan, banyak buku yang udah gue baca berserakan di lantai dalam keadaan pintu kamar tertutup. Berminggu-minggu gue nggak pernah bosen tinggal di dalam kamar ditemani komik, novel, buku bekas pelajaran, dan lain-lain. Semuanya gue baca sampai tamat. Uang di dompet hampir habis ketika selalu gue belikan buku daripada makanan.

Ketika berada di puncak kesuksesan, pasti pernah berada di jurang keterpurukan.

Ini momen yang paling sedih dan hampir buat gue putus asa. Buat ngelanjutin nulis.

Shit! Uang gue nggak cukup buat makan hari ini dan besok,” ucap gue dalam hati, ketika gue udah berada disambut momen yang paling pedih.

“Oke, oke. Pasti ada masanya gue bisa duduk di meja makan dengan bisa memesan apa pun semau gue, bahkan mungkin nanti sambil duduk berdua dengan orang yang gue sayang,” ucap lirih gue sambil membayangkan kejadian itu, seolah-oleh bisa terwujud di kemudian hari.

Akhirnya, dua hari gue nggak makan dan sekalinya gue makan, gue cuma makan nasi, telur, dan garam. Just it. Yes. Serius. Dan itu juga udah cukup lama sejak gue menahan rasa lapar, gue selalu membuat jadwal makan sehari dua kali, jam 4 pagi untuk sahur dan maghrib untuk buka puasa. Ya, gue lebih sering puasa dan menu makanannya cuma dua: nasi, telur, dan garam tadi. Dan yang paling spesial adalah mie instan.

Selain itu, ditambah dengan nyokap kandung gue kena kasus dan gue harus rela menjual barang-barang gue, handphone, laptop, dan peralatan gue menulis lainnya, demi membantu nyokap. Gue hampir putus asa saat itu, bahkan seorang penyemangat pun nggak ada.

Buku yang dulu gue pernah beli dan gue baca sambil merasakan lembar-lembar buku tersebut — karena gue belinya dengan penuh pengorbanan, sekarang buku-buku itu gue mau jual semuanya, demi sesuap makanan dan bayar ke warnet untuk menulis posting blog. Karena nggak ada uang untuk bensin sama sekali dan juga ongkos untuk naik angkot buat ngejual buku-buku gue tadi, gue pergi jalan dengan jalan kaki sekitar 5 kilometer ke toko buku bekas untuk gue jual buku-buku gue.

“Berapa mas, semuanya?” tanya gue kepada penjual toko buku bekas di belakang Terminal Baranang Siang, Bogor. Keringat mengucur deras dari kaus yang gue pakai, karena gue udah berjalan kaki cukup jauh dan ditambah cuaca Bogor pada siang hari yang sangat panas.

“Buku yang spesial buat mas-nya yang mana?” tanya balik penjual toko buku bekas tersebut.

“Hmm? Maksudnya? Kalo buku spesial buat saya ada 2, Skripshit dan Creative Writing,” jawab gue sambil memilih buku yang gue sebutkan barusan.

“Oke, yang dua ini saya kasih harga yang lebih mahal dari yang lainnya,” ucap penjual buku bekas tersebut, sambil menyebutkan jumlah harga buku seluruhnya yang gue jual.

Lumayan untuk bisa makan satu minggu dari hampir 20 buku/novel yang gue jual. Gue harus merelakan buku pertama yang membuat gue ingin menjadi penulis, termasuk buku-buku lainnya yang gue suka dan juga sebagai rekomendasi untuk tulisan gue. Rasanya kayak lo baru jadian 3 bulan, tapi lo harus putus karena sang pacar dijodohin sama orang tuanya. Pedih.

Gue rutin nulis lagi, dan itu di warnet. Gue nggak malu dan pantang menyerah buat itu. Nggak peduli tulisan gue dibaca atau nggak. Nggak peduli komentar tentang tulisan gue ini jelek atau mengikuti siapalah. Gue cuma ingin mengekspresikan kegelisahan hidup gue, dan sebagai mesin waktu ketika gue mau kembali ke masa lalu. Indah bukan? 🙂

***

“Nggak tau tuh anak ini pengen jadi apa,” ucap bokap gue yang sedang mengobrol dengan temannya. Gue rasa dia memang lagi ngomongin gue.

“Emang kamu mau jadi apa, Bal?” tanya temen bokap gue yang penasaran.

“Penulis,” ucap gue jelas, padat, singkat, dan tanpa mikir. Karena kalo mikir dulu adalah; suatu hal tersebut belum dia yakini sepenuhnya.

“Alah, ngeliat ngebaca buku aja nggak, apalagi nulis. Malah pengen jadi penulis. Mustahil.”

“Liat aja nanti!” ucap gue dalam hati

***

“Mah, Iqbhal mau jadi penulis, boleh gak?” tanya gue serius kepada nyokap.

“Boleh, asal utamain belajar buat tes kuliah tahun depan yah.”

Gue pun melarikan diri untuk nggak ikut tes masuk kuliah PTN jalur mana pun. Gue bohong ke nyokap. Saat itu nyokap benar-benar marah dan gue semakin kesepian tanpa perhatian siapa-siapa buat ngelanjutin tujuan gue, nulis.

I’m sorry, mom.

***

“Bal, gue mimpi lo nerbitin buku siah,” ucap Ridwan, temen gue saat ngumpul bareng temen-temen SMA setelah mereka liburan pertengahan semester kuliah. Bulan Desember.

“Ah masa?”

“Iye, gak jelas bukunya apa. Pokoknya lo nerbitin buku aja.”

Dengan itu, gue semakin semangat buat nerbitin buku, gue nulis bab per bab kisah tentang percintaan gue. Judul udah gue dapetin sekitar setahun yang lalu, dan judul-judul buat buku gue selanjutnya juga. Dan terkumpullah beberapa bab yang gue yakin cukup untuk digabungin menjadi satu naskah novel.

Bulan April, terbitlah buku pertama gue: Aku, Kau, dan Siraru.

pembaca aku kau dan siarau

Seperti halnya melahirkan sebuah anak, dalam prosesnya, banyak banget rintangan untuk membuat dia tumbuh dan terlahir sempurna. Gue harus memberikannya ‘vitamin’, perhatian, pengorbanan, dan check-up sesering mungkin.

Dari pengalaman gue sebelumnya, banyak hal yang selalu gue share ke semuanya,

Bahwa memang bagian tersulit dari pilihan hidup adalah menjalaninya.

aku kau dan siraru 2

Sukses nggak harus dari latar dan modal yang banyak dulu kok. Gue nulis dari nggak punya apa-apa, siapa-siapa, dan followers yang banyak. Nggak ada alesannya; “tapi gue nggak punya laptop untuk nulis.” See? Gue dulu nulis bolak-balik warnet hampir tiap hari. Gue bisa nulis di kertas kosong, bahkan bagian buku pelajaran yang masih ada lembar belum terpakainya selalu gue pakai untuk nulis. Nulis itu di mana aja, bukan harus di laptop aja.

Nggak ada yang nyemangatin? Ada kok, diri sendiri dan orang yang udah pernah ngeremehin kita. Sadar atau nggak, hal yang paling menyakitkan dari orang yang pernah ngeremehin gue adalah sahabat dari mantan pacar gue sendiri. Sejak merintis nulis, gue dibilang lebay, so’ bijak, ngikutin Raditya Dika lah (cuma karena genre tulisan kita itu sama). Terus ada cowok juga yang selalu bully gue, kayaknya dia ngerasa paling sempurna karena hobi banget ngebully orang lain.

“Ketika kita mau sukses. Pasti dan akan selalu ada yang merendahkan kita.”

aku kau dan siraru

Nggak punya followers banyak dan popularitas? Gue bukan selebtwit, selebask atau yang lainnya, tapi gue suka share karya dan kebaikan di sosial media gue, sehingga ketika mereka tanya kenapa gue bisa lebih dikenal di sosial media, mereka udah tau sendiri kok.

Enaknya dari sebuah proses adalah; merasakan proses dari nol. Dan ketika kita tiba-tiba jatuh lagi, kita tau bagaimana kita bisa survive.

Kemarin gue baru merasakan makan di KF*C dengan bisa memesan makanan apapun yang gue mau, sampai kenyang. Bukan cuma itu, gue juga ditemani oleh orang yang gue sayang dengan duduk berhadap-hadapan. Kita abis makan, sehabis nonton filmnya Alitt Susanto yang diangkat dari novelnya. Suatu kebetulan?

Percaya atau nggak, itu adalah hal yang gue yakini ketika berada ‘di bawah’ saat kemarin.

Gue bahagia.

Sekarang gue lagi nulis buat buku kedua. Dan sebagai hadiah untuk hari ulang tahun, sama halnya seperti buku pertama gue yang terbit tahun lalu, sebagai tujuan buat hadiah hari ulang tahun gue juga.

“Eh, Wan. Lo inget gak dulu lo bilang kalau lo mimpiin gue nerbitin buku?” tanya gue kepada Ridwan.

“Emang iya tah? Nggak ah,” ucap Ridwan dengan tegas sambil menggelengkan kepalanya, setelah gue berkali-kali menegaskan bahwa dia bener pernah bilang seperti itu.

Gue pun tersenyum. Oke, saatnya mengulang kembali prosesnya.

proses buku kedua