Yudha Dwi Laksono: “Skripsi dan kepergian Ibu ke surga – Allah merupakan arsitek terbaik dalam hidup kita.”

Ada beberapa hal di dunia ini yang membuat kita akan bersedih. Salah satunya yaitu orang yang kita sayang pergi meninggalkan kita selama-lamanya. Kali ini saya akan berbagi kisah indahnya saat-saat bersama ibu. Hubungan yang hingga saat ini semakin membuatku yakin akan besarnya cinta ibu kepadaku. Wanita yang akan kuceritakan ini sungguh luar biasa. Sama halnya dengan para ibu yang ada di dunia ini. Cinta kasih yang tulus dari ibu yang mampu membuat kita bisa menjadi seperti ini.

Teringat jelas saat aku dan keluarga harus berjuang membantu ibu melawan penyakit yang menimpanya. Perjuangan ayahku yang selalu setia membantu setiap apa pun yang ibu butuhkan, sementara dia terbaring sakit di ruang perawatan salah satu rumah sakit di Banyuwangi. Ibuku menderita sakit kanker yang sampai saat ini, aku juga belum tahu kanker jenis apa yang menyerang ibu. Pada dasarnya setiap apa pun yang ada di dunia ini pasti terjadi atas izin-Nya. Begitu pula dengan penyakit yang menimpa ibuku.

Terkejut dan tidak tahu harus seperti apa lagi saat ibuku divonis menderita kanker oleh dokter. Dokter hanya mengatakan bahwa ibu terkena kanker, namun harus ada pemeriksaan lebih lanjut untuk sumber awal penyakit kanker ini. Dalam keluarga besarku, tidak ada riwayat keluarga yang terkena kanker. Dokter hanya menjelaskan bahwa kanker yang diderita ibuku sudah membuat flek di paru-paru penuh. Keterbatasan alat pemeriksaan membuat kami belum mengetahui persis asal mula penyakit kanker yang diderita ibuku.

Yudha Dwi Laksono sunset

Saat itu aku sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Waktu dan jarak yang menjadi kendala bagiku untuk tetap terus bisa berada di sampingnya. Di saat itu pula aku harus berjuang untuk menyelesaikan pendidikanku di bangku kuliah. Tepat 3 bulan sebelum meninggalnya ibu, aku sedang disibukkan dengan tugas akhir penelitian, berkaitan dengan jurusan yang aku pilih, yakni Teknik Elektro. Aku harus fokus untuk dapat segera menyelesaikan masa studiku di kampus. Sementara di satu sisi, aku juga harus memperhatikan kondisi kesehatan ibu yang semakin hari semakin tidak stabil.

Tidak mudah memang menghadapi semua ini. Namun aku selalu meyakini bahwa apa pun yang Tuhan berikan kepadaku merupakan kado terindah yang aku terima. Tuhan sedang bekerja untuk mempersiapkan kado terindah yang akan aku terima. Selama kurang lebih 3 bulan aku harus bolak-balik Jakarta-Banyuwangi untuk menemui ibu, sekedar melihat perkembangan kesehatan ibu. Selebihnya, aku lakukan melalui telepon untuk tetap selalu tahu perkembangan kesehatannya.

Inilah wujud betapa sayangnya ibu kepadaku. Saat pertama kali mendapat kabar kalau ibu sakit, aku pun sesegera mungkin untuk pulang ke rumah, meskipun aktivitas sedang banyak di perkuliahan. Saat tiba di rumah sakit, aku terkejut melihat tubuh ibuku yang terbaring lemas di tempat tidur dengan kondisi kurus kering. Pelukan erat aku berikan kepadanya, dan menanyakan bagaimana kabar ibu, dan apa yang ibu rasakan. Tak kusangka, jawaban ibu di luar dugaanku. Ibu saat itu hanya melihat mataku dengan terdiam. Dia lalu menanyakan siapa aku, dan kenapa aku menangis. Terkejut dan sedih. Ternyata penyakit ibuku telah membuatnya sedikit hilang ingatan akan diriku. Akupun terdiam sejenak dengan air mata yang terus keluar tak terbendung.

Yudha Dwi Laksonon

Ayahku yang saat itu sedang di sampingku pun berkata bahwa ibuku sedikit mengalami hilang ingatan, diakibatkan penyakit kanker yang dideritanya. Aku pun berjalan keluar ruangan tempat ibu dirawat, dan menanyakan riwayat bagaimana aku tidak tahu lebih awal akan kondisi ibuku saat itu. Hanya terucap kata “Maaf” yang keluar dari mulut ayahku. Ini semua permintaan ibuku untuk tidak memberitahukan kepadaku kalau ibu sedang sakit. Ayah berkata bahwa ibuku sudah sekitar 10 bulan ini mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Selama 10 bulan itu, ibuku sering keluar-masuk rumah sakit, dan hanya mengeluhkan sakit di bagian dada, dan suka sesak nafas, yang membuat ibu jatuh pingsan. Ibu yang meminta ayah untuk tidak bercerita akan sakit yang dideritanya. Dia hanya ingin aku fokus kuliah dan bisa segera menyelesaikan masa studiku. Dia tidak mau membuatku terbebani secara pikiran dengan penyakit ibu. Dia hanya menginginkan aku tetap fokus untuk meraih gelar yang aku perjuangkan. Maklum, jarak dan waktu yang lumayan jauh membuat ibuku khawatir — jikalau aku tahu. Itu akan semakin membuatku tidak fokus mengerjakan tugas akhirku, pikir ibuku. Sedikit marah sebenarnya mendengar jawaban yang terlontar dari mulut ayahku. Namun aku sangat mengerti, apa yang ibu lakukan merupakan hal yang sangat luar biasa. Begitu sayangnya ibu kepadaku, hingga dia tidak kuasa menceritakan penyakit yang ia alami hanya sekedar untuk tidak membuatku khawatir dan sedih. Mengetahui apa yang menjadi keinginan ibu merupakan hal yang menambah semangat untuk segera menyelesaikan tugas akhir.

Tidak mudah memang membuat keputusan untuk tetap melanjutkan tugas akhir dengan keinginan untuk tetap selalu bersama ibu. Kondisi ibu yang semakin memburuk membuatku tetap khawatir akan keadaan yang tidak kami inginkan. Saat itu aku tetap berkeinginan untuk dapat menyelesaikan masa studi di teknik elektro, dan nantinya kado kelulusan ini yang akan aku persembahkan untuk kedua orangtuaku. Mereka yang dengan sabar mencari rizki untuk tetap dapat membiayai kehidupanku di perantauan, dan biaya perkuliahanku tiap semesternya. Atas dasar inilah aku memutuskan untuk meninggalkan ibu dan melanjutkan menyelesaikan tugas akhir yang akan dipertanggungjawabkan dalam bentuk sidang tugas akhir bulan Agustus 2016.

Yudha Dwi Laksono 4 foto

Beberapa hari setelah kepulanganku ke Jakarta, aku hanya memastikan kesehatan ibu melalui telepon seluler yang kumiliki. Setidaknya, dengan cara ini aku bisa tetap memantau kesehatan ibu dan perkembangan pengobatan yang ia jalani. Sekitar 2 minggu aku disibukkan dengan penyusunan tugas akhir. Segala upaya aku kerahkan untuk mendapatkan hasil terbaik pada saat ujian kelulusan nanti.

Disela-sela rutinitas kegiatanku, aku mendapat kabar pada sore hari, kalau ibuku masuk rumah sakit lagi akibat penyakitnya kambuh. Kecemasan melanda dan membuatku semakin tidak bisa fokus mengerjakan aktifitas keseharianku di Jakarta. Malamnya, aku seperti mendapat pesan bahwa ibuku tidak akan lama lagi akan pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Entah kenapa perasaan ini semakin lama semakin menambah keyakinanku atas kematian ibuku. Dalam kebimbangan, aku pun segera mengambil air wudhu dan mengerjakan Sholat Isya’. Selepas sholat Isya’ aku pun berdoa akan apa yang aku cemaskan selama ini. Singkatnya, beginilah doa yang aku panjatkan untuk ibuku.

“Ya Allah, Hamba selalu menyerahkan segala keputusan dalam kehendak-Mu. Perasaan sore hari ini membuatku semakin yakin akan apa yang Engkau putuskan nanti untuk ibuku. Hamba sadar akan kebesaran kuasa-Mu. Hari ini aku hanya ingin satu hal untuk dapat kau kabulkan. Jika memang Engkau masih memberi kesempatan bagi ibu untuk dapat menjadi istri dari ayahku dan ibu bagi kami, maka angkatlah penyakitnya. Sembuhkanlah dia, agar dapat segera berkumpul bersama kami lagi. Namun jika memang Engkau memiliki rencana lain, hamba pasrahkan segala sesuatunya kepada-Mu. Hamba tidak kuasa melihat kondisi ibu yang semakin hari semakin tidak membaik. Hamba tidak kuasa melihat kondisi ibu yang semakin hari semakin kurus akibat penyakit kanker yang ia derita. Hamba ikhlas dan pasrah jika memang ibu harus meninggalkan kami dari dunia ini. Hamba ikhlaskan ibu untuk kembali ke pangkuan-Mu. Hamba Ikhlas lillahitaalla atas apa pun yang telah Engkau putuskan bagi ibu.”

Itulah doa yang sempat terucap dari mulutku selepas sholat isya’. Akupun beranjak tidur karena waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Dalam tidurku, aku sangat gelisah dan cemas luar biasa akan kondisi kesehatan ibu di Banyuwangi sana. Aku memaksakan diri tidur dengan perasaan cemas yang luar biasa. Baru kali ini aku merasakan cemas yang berlebihan. Hingga keesokan harinya, tepat selepas adzan subuh, adikku menelpon dan menanyakan nomor ponsel adik perempuan ibu yang tinggal di Bogor. Saat itu aku jawab saja permintaan adikku dan dia langsung menutup teleponnya. Aku pun mulai curiga atas apa yang akan aku dengar selanjutnya. Aku merasa yakin bahwa adikku ingin memberitahu tanteku yang di Bogor kalau ibu sudah meninggal. Tak lama setelah itu aku beranikan diri telepon adikku. Secara spontan aku langsung berucap “Ibu meninggal ya, dek?” Aku sudah punya firasat semenjak jam 8 malam kemarin. “Ya, Mas. Ibu sudah meninggal, tadi selepas adzan subuh.” Air mata pun keluar deras dari kedua bola mataku. Sedih, namun aku harus ikhlas atas apa yang aku dengar. Inilah doa tercepat yang terkabul dari semua doa yang aku panjatkan kepada-Nya. Kurang dari 10 jam Allah SWT menjawab semua kekhawatiraku selama ini.

Benar saja, ibu yang selama ini dengan sengaja tidak memberitahukan sakitnya dengan alasan takut menjadi beban buatku yang sedang menyusun tugas akhir kuliah. Ibu yang dengan tulus ikhlas membimbing dan membesarkanku untuk lebih mengenal makna hidup manusia. Kini ia telah tiada. Ia pergi meninggalkan sejuta kenangan yang akan selalu aku simpan dalam ingatan.

Yudha Dwi Laksono sunrise

Ia bukan hanya malaikat duniaku, melainkan surga dunia bagiku. Dia menjadi panutan atas apa yang ia kerjakan. Ia sungguh merupakan istri dari seorang lelaki yang bertanggungjawab. Ia sukses menjadi ibu dari anak-anak yang mereka lahirkan. Terimakasih telah menjadi penyemangant dan inspirator hidupku.

Akhirnya, terjawab sudah keputusan akhir yang ibu terima dari Allah SWT. Dia harus kembali ke pangkuan-Nya. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan mempersiapkan pemakaman ibuku. Selama seminggu aku berada di rumah, dan membereskan segala apa yang ada dirumah. Minggu kedua aku harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan penyusunan tugas akhir yang akan dipaparkan pada 2 minggu lagi. Aku yakin, segala apa pun yang kita inginkan tidaklah selalu dapat kita capai dan pertahankan. Begitu pula akan orang-orang yang kita sayang.

Hanya Dia-lah yang Maha menentukan apa yang terbaik buat kita.

Singkat cerita, akhirnya aku menyelesaikan tugas akhir dengan predikat Cumlaude. Sebuah pencapaian luar biasa buatku, yang aku persembahkan untuk kedua orangtua. Aku wisuda satu bulan setelah kepergian ibu. Dalam prosesi wisuda yang khidmat, aku merasa akan kehadiran ibu. Aku sangat yakin, saat itu ibu hadir untuk melihat prosesi wisuda yang aku ikuti. Aku berdoa dalam hati dan berucap

“Terimakasih ibu atas apa yang telah kau berikan selama ini. Inilah wujud kecil kado yang bisa aku persembahkan untukmu. Terimakasih telah menjadi ibu terbaik selama kau hidup.”

Apa pun yang kita perjuangkan suatu saat nanti, tetaplah menjadi milik Allah SWT. Tuhan sedang memberikan tantangan kepadaku untuk bisa menjadi sabar dan ikhlas, jikalau kehilangan harta paling berharga yang kumiliki di dunia. Ikhlas dan sabar merupakan hal yang wajib kita miliki, dengan keyakinan penuh akan rencana Allah SWT. Kita tidaklah akan merasa kesusahan jikalau kehilangan orangtua yang kita sayang. Aku yakin Allah SWT sedang mempersiapkan kado luar biasa buat kehidupanku nanti. Aku hanya diminta untuk bersabar dan ikhlas atas apa pun yang Allah sedang atau akan berikan dalam perjalanan hidupku. Jika kita mampu belajar akan kehilangan sesuatu yang berharga di dunia ini. Kita tidak akan merasa sedih jikalau hanya kehilangan harta kecil di dunia. Tetaplah yakin bahwa dari semua yang baik pasti ada yang lebih baik. Lebih baik hanya milik Allah SWT semata, dan kita patut untuk berterimakasih atas apa pun yang Allah SWT rencanakan bagi kehidupan kita. Ini Ceritaku yang semoga bisa memberikan inspirasi bagi kita semua bahwa “Allah merupakan arsitek terbaik dalam hidup kita. Aamiin.

Yudha Dwi Laksono dari belakang