Ence Nur Fitria: “Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang tidak sempurna, mungkin orang lebih mengenal dengan sebutan broken home. Aku …”

Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang tidak sempurna, yang tidak semua anak dapat menerima kondisi ini, mungkin orang lebih suka menyebutnya Broken Home. Ya, aku lah si anak dalam keluarga yang tidak biasa. Aku dibesarkan oleh ibuku dan hanya pernah satu kali bertemu ayahku setelah perpisahan mereka dan sebelum beliau meninggal.

Malu? Tidak sama sekali. Aku bangga. Aku bangga atas keberhasilan ibuku mendidikku hingga sejauh ini. Dua puluh dua tahun dia membesarkanku seorang diri, bekerja banting tulang, menguras tenaga, pikiran dan juga hati.

ENce lagi

Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang tidak sempurna, mungkin orang lebih mengenal dengan sebutan broken home. Aku si anak yang tidak pernah malu mengakui, karena sedari kecil ibu sudah mengajariku mengenai kondisi keluarga kami.

Cemooh? Banyak. Apa aku peduli? Awalnya ya, tapi ibu mengajariku untuk tidak mendengarkan apa kata orang. Sejak saat itu aku tahu, aku menggenggam tangan ibuku dan kita akan melangkah bersama. Walaupun sering kami terjatuh dan berdebat, langkah kami tidak pernah berhenti.

Ence Nur Fitria

Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang tidak sempurna, mungkin orang lebih suka menyebutnya broken home. Aku tumbuh bersamaan dengan menuanya usia ibuku, namun semangatnya tidak pernah luntur untuk mendampingiku.

Lelah? Terkadang, tapi kami berjuang. Langkah demi langkah, hingga sampai pada titik ini, titik di mana aku yang akan membahagiakannya, meskipun tidak akan pernah setara dengan apa yang sudah dia korbankan untukku. Aku masih menggenggam tangan ibuku dan tidak akan pernah aku lepas.

Aku dibesarkan oleh seorang malaikat yang tidak sepenuhnya sempurna, mungkin orang lebih mengenalnya dengan sebutan Ibu.

Terimakasih untuk semua pengorbanan dan perjalanan hidupmu, Bu.

Cinta dari Bapak di surga, dan anakmu di Yogya.

Ence Nur Fitria dan Ibu