Ence Nur Fitria: “Dia, sosok yang hanya aku dengar dari cerita Ibuku. Dia, aku menyayanginya dan aku juga merindukannya. Dia adalah …”

Aku mengenalnya dari cerita ibuku, ia sosok yang bijaksana, berwibawa, sabar dan penyayang. Melihat dari posturnya, ia seseorang yang gagah dan tampan. Tak pernah aku benar-benar mengenalnya. Saat aku masih menjadi anak kecil berumur 4tahun, ia pergi. Tidak benar-benar pergi, hanya saja kami tidak bersama. Aku tahu, bukan keinginannya begitu, tetapi keadaan yang memaksa.

Aku mengenalnnya dari cerita ibuku. Ibu selalu mengajariku untuk tidak rendah diri dengan keadaanku yang berbeda. Aku mulai memasuki jenjang pendidikan, taman kanak-kanak. Orang-orang mulai sering menggoda Ria kecil,

“Ria mau ya punya yang baru? Biar ibu ada temen.”

Dan aku akan menjawab dengan tegas dan keras,

“Gakk bolehh!!!!”

Setelah itu biasanya aku menangis. Aku tahu ibu memang kesepian, tapi tetap tidak ada yang boleh menggantikan posisinya di sini.

Ence Nur Fitria dan Ibu

Aku mengenalnya dari cerita ibuku. Yang selalu membangga-banggakannya dengan cerita masa lalu. Aku tersenyum dan tertawa seiring cerita itu. Aku beranjak menjadi gadis kecil di bangku sekolah dasar, aku sering berkata pada ibuku,

“Kalau sudah besar, Ria mau cari yang kayak dia..”

Dan ibuku pun tersenyum. Aku tahu, takkan mudah mencari sosok sepertinya.

Aku mengenalnya dari cerita ibuku. Yang tak pernah bosan mengulang cerita yang sama. Namun, tak ada kejenuhan sama sekali bagiku untuk kembali mendengarkan. Aku kini beranjak remaja, mulai mengenal cinta. Ibu membimbingku agar tidak terjerumus pada hal negatif. Aku mulai bertanya,

“Apa dia tidak menyayangi kita, Bu?”

Ibu tersenyum dan menjawab,

“Justru karena dia sayang, makanya dia tidak di sini.”

Aku tahu ibuku benar.

ENce lagi

Aku mengenalnya dari cerita ibuku. Yang mulai kehilangan suara akan kisahnya, berganti dengan kisah-kisah baru yang kini mewarnai hatinya. Aku kini beranjak dewasa, dan telah cukup mengenal cinta. Tak lagi seperti anak TK, aku mulai mengerti apa yang ibuku rasakan.

“Asalkan dia merupakan sosok yang terbaik buat ibu,” aku berkata pada ibuku.

“Pasti!!” Ibu meyakinkanku.

Dan aku pun tahu Ibuku akan mendapatkan yang terbaik.

Lantas bagaimana dengan kisahnya? Tetap menjadi orang yang bijaksana, berwibawa, sabar dan penyayang. Ia juga tetap gagah dan tampan walau tak setegap dulu karena termakan usia. Ia tetap menyayangi aku dan ibuku.

Tak pernah sedikit pun aku membencinya karena telah pergi. Sosoknya terlalu kuat tersimpan di hatiku walau hanya melalui cerita yang berulang.

Hingga kabar yang sama sekali tak pernah kubayangkan sampai di telingaku. Saat aku beranjak dewasa dan membutuhkan bimbingannya, ia kini benar-benar pergi, untuk selamanya. Meninggalkan sejuta cerita tanpa sedikit pun memori yang kusimpan dengannya.

Aku sangat menyayanginya. Aku merindukannya walau terkadang tak pernah kusadari.

Aku mengenalnya dari cerita ibuku. Sebagai seorang pria yang kusebut dirinya sebagai BAPAK.

Bapak, ini Ria, anakmu. Ria dibentuk untuk dewasa dan mandiri. Ria dilatih untuk kuat dan berani. Ria berusaha menjadi yang terbaik untukmu dan untuk semua.

Ence Nur Fitria

Doakan Ria sukses, Pak. Ria selalu sayang Bapak. Semoga Bapak tenang di sana ditemani para malaikat.

Lihat anakmu di sini membanggakanmu.

 

Di ujung rindu,

 

NUR FITRIA

(Nama yang kau berikan untukku dengan penuh kasih sayang, cinta dan doa: CAHAYA KESUCIAN).